Kartografi Sinematik Pulau Hainan

Artikel ini telah dipublikasikan pada katalog ARKIPEL 2025 Years of Living Dangerously 


Pohon kelapa merupakan salah satu ikon paling khas dalam lanskap tropis. Secara ekonomi, pohon ini memiliki banyak fungsi: buah, minyak, serat, hingga kayu, sehingga ia kerap disebut sebagai pohon kehidupan bagi masyarakat tropis. Dalam ranah kultural, pohon kelapa juga hadir dalam imajinasi visual tropis yang kerap diasosiasikan dengan kesuburan serta keindahan alam.

Dalam film The Red Detachment of Women (1961, Xie Jin), kehadiran pohon kelapa dan lanskap tropis Pulau Hainan memperoleh makna baru. Alih-alih dekorasi, barisan pohon kelapa tampil sebagai latar ideologis bagi transformasi tokoh dan perjuangan revolusioner. Tubuh perempuan berseragam militer yang bergerak di bawah naungan pepohonan tropis menggeser imajinasi tropis dari citra yang pasif menuju ruang disiplin, perjuangan, dan revolusi. Hainan, pulau tropis di selatan Cina, tidak lagi dipandang sebagai pinggiran geografis, melainkan diproyeksikan sebagai pusat ideologi dan geopolitik.

Secara geografis, Pulau Hainan kerap dianggap wilayah pinggiran dibandingkan pusat politik dan ekonomi di utara, seperti Beijing. Namun justru kedekatannya dengan Asia Tenggara menjadikannya titik strategis dalam peta regional. Hainan adalah gerbang selatan yang menghubungkan Cina dengan jalur laut internasional, sekaligus garda terdepan bagi pertemuan beragam pengaruh budaya, perdagangan, dan militer.

Dalam film ini, pusat ideologi dipersonifikasikan melalui tokoh Wu Qionghua, seorang mantan budak tuan tanah yang berevolusi menjadi prajurit perempuan Tentara Merah. Film menampilkan perjalanan Qionghua yang tubuh dan identitasnya didisiplinkan serta direvolusi oleh ideologi komunis. Adegan pembuka memperlihatkan pengejaran Qionghua yang melarikan diri dari tuannya, Nan Batian. Dalam pelarian, ia bertemu Hong Changqing, anggota Partai Komunis Cina yang menyamar sebagai pedagang. Ketika Qionghua tertangkap, ia diselamatkan Hong Changqing—sebuah alegori tentang pembebasan oleh ideologi komunis.


Qionghua kemudian memutuskan bergabung dengan Tentara Merah Perempuan. Perbandingan kehidupannya di rumah Nan Batian dengan saat ia bergabung dengan Tentara Merah menjadi kunci transformasi Qionghua dalam film. Di rumah tuan tanah, Qionghua adalah objek penindasan dan kekerasan yang tubuhnya dikontrol oleh feodalisme. Saat berada di barisan tentara perempuan, ia dididik dalam disiplin militer dan ideologi kolektif, di mana setiap orang menjalani pola hidup yang sama—dari ranah domestik hingga kemiliteran. Di titik ini, ia seolah terlahir kembali sebagai manusia baru yang berevolusi: tidak lagi menjadi objek dalam tatanan sosial timpang, melainkan simbol perempuan disiplin dan militan. Sebagai penduduk asli, Qionghua secara metaforis merepresentasikan bagaimana rakyat lokal ditempatkan di pusat narasi revolusi.

Peralihan dari ruang feodal ke ruang revolusioner bukan hanya soal narasi, tetapi juga soal bagaimana sinema membentuk pengalaman penonton lewat kontras estetis. Kontras ini tidak hanya hadir secara naratif, diperkuat oleh strategi sinematik yang subtil, melalui pencahayaan dan atmosfer visual. Pada bagian awal, saat adegan masih berpusat di rumah tuan tanah, pencahayaan cenderung gelap dan muram, mengekspresikan relasi kuasa yang timpang. Bahkan, kedatangan Hong Changqing ke rumah Nan Batian digambarkan dalam suasana malam hari. Sebaliknya, ketika Qionghua telah bergabung dengan Tentara Merah, pencahayaan adegan menjadi lebih terang, musik paduan suara, dan koreografi tubuh yang disiplin menghadirkan nuansa optimistis dan penuh harapan. 

Lebih jauh, film ini berfungsi sebagai medium komunikasi politik lintas bangsa. Pada Festival Film Asia Afrika (FFAA) ketiga di Jakarta tahun 1964, The Red Detachment of Women ditayangkan bersama 15 film lain dan berhasil meraih penghargaan utama, yakni Penghargaan Bandung, bersama film lain: Niguruma No Uta. Film ini dianggap merepresentasikan semangat Bandung dalam perlawanan terhadap imperialisme dan feodalisme. Bagi Cina kala itu, revolusi dipahami sebagai proses menata ulang tatanan sosial, menggeser kekuasaan feodal tuan tanah menuju masyarakat sosialis yang berlandaskan petani dan buruh. Film ini menegaskan gagasan tersebut lewat konstruksi visual dan melodramatik yang menekankan kontras antara dunia lama dan dunia baru. Figur tuan tanah diposisikan sebagai simbol feodalisme, sementara Wu Qionghua dan Tentara Merah Perempuan hadir sebagai citra masa depan yang disiplin dan kolektif. 

Film ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks produksinya, yang lahir pada periode “Seventeen Years Cinema” (1949-1966), ketika sinema dijadikan medium pedagogis negara di bawah naungan Shanghai Film Studio. Film pesanan ini dibuat oleh Xie Jin tahun 1961, sebelum Revolusi Kebudayaan Cina berlangsung. Realisme sosial, melodrama, dan propaganda ideologis dirangkai bersama untuk mendidik masyarakat. Ketika dirilis, film ini mendapatkan sambutan yang hangat dan sangat disukai masyarakat Cina saat itu, hingga dibuat adaptasinya ke dalam pertunjukkan balet model revolusioner. Hal tersebut menjadikan film ini sebagai salah artefak budaya paling penting dalam ideologi komunis Cina. 

Geografi politik juga memperkuat makna film ini. Beijing berfungsi sebagai pusat ideologi, sementara Hainan, sebagai pulau tropis di selatan, digambarkan sebagai ruang pinggiran yang diangkat menjadi pusat baru revolusi. Posisi pulau Hainan, secara geografis, dekat dengan Taiwan–yang kala itu menjadi basis Kuomintang (Partai Nasionalis Cina) dan didukung oleh Amerika Serikat. Hal ini menjadikan Hainan arena simbolis untuk menegaskan garis ideologis Cina di masa Perang Dingin. Lanskap Hainan yang berseberangan dengan pusat di Beijing, memperlihatkan bagaimana Hainan sebagai garda terselatan diproyeksikan sebagai pusat ideologis yang berhadapan langsung dengan imperialisme dan feodalisme, sekaligus membuka resonansi solidaritas dengan gerakan anti-kolonial di Asia dan Afrika. 

Keseluruhan film penting untuk dibaca kembali sebagai refleksi atas warisan solidaritas Asia-Afrika dengan konteks kekinian. Melalui lanskap tropis Hainan, perjalanan Wu Qionghua, serta simbolisme pohon kelapa, film ini menempatkan revolusi Cina dalam horizon global Asia-Afrika. Partisipasinya dalam FFAA III menegaskan bahwa film dapat menjadi medium solidaritas politik dan budaya. []


Referensi:

Bunga P. Siagian dan Lilawati Kurnia, “Festival Film Asia Afrika III: Pengetahuan Perempuan dan Imajinasi atas Kedaulatan Sinema”, dalam Capture: Jurnal Seni Media Rekam, Vol. 14, No. 3 (Desember 2023).



Comments

Popular Posts